[Flash 9 is required to listen to audio.]

6,832 plays

all-we-are-saying:

It’s December 8, 1980, around 11:00 P.M. 

John Lennon has just been rushed to the hospital after suffering multiple gunshot wounds. Roosevelt Hospital plays muzak (instrumental background music found often in businesses and hospitals) and the song that’s playing as John is in the Emergency Room is “All My Loving.”

Just weeks earlier, John praised the song written by Paul McCartney saying “All My Loving is (written by) Paul, I regret to say… (laughs)… because it’s a damn good piece of work. But I play a mean guitar in the back.”


The rendition of the song above, is most likely close, if not exactly, what was playing those last moments. I believe this is the last thing John Lennon heard.

We love you forever John.  

Close your eyes and I’ll kiss you, tomorrow I’ll miss you… 

2,502 notes

Angkasa Jakarta (bagian 1)

“Jakarta. Sudah hampir 10 tahun saya mencari hidup di sini. Berbeda jauh dengan kota saya sebelumnya, di sini semuanya cepat bergerak. Siang malam, selalu ada pengalaman baru menanti di setiap sudutnya. Dan saya hampir ketinggalan.”

“Palapa adalah nama pemberian orang tua saya, tepat sehari setelah satelit Palapa mengangkasa dengan dorongan mesin uap. Umur saya 35 tahun, dan saya adalah seorang aparat kepolisian. Penyelidik tepatnya. Bukan seperti harapan yang orang tua tanamkan di nama saya.”

“Hampir setiap hari saya merasakan udara awal pagi Jakarta. Tidak begitu segar, apalagi ketika hujan turun. Air-air di selokan berbau layaknya amis bangkai manusia. Mungkin hampir setiap malam, selalu ada mayat di Jakarta. Dan tentu, tidak semuanya saya selidiki.”

“Di mulut gang dekat rumah saya, ada sepasang suami istri paruh baya yang membuka warung nasi goreng di sana. Warung Nasi Goreng Nano Khas Surabaya namanya. Enak, dan saya sering makan di sana kalau pulang terlalu larut.

Hari itu Rabu, dan malam itu saya lagi libur bertugas. Saya sedang bercengkrama dengan istri saya. Sudah 7 tahun kami menikah, dan Tuhan belum mengaruniakan kami anak.

Sarah adalah istri saya, tapi mereka biasa memanggilnya Tika, Bu Tika, atau Bu Palapa. Kami bertemu di hari pertama saya di Jakarta. Waktu itu Sarah hanyalah seorang mahasiswi di sebuah kampus agama ternama di selatan Jakarta, dan sekarang dia adalah alasan saya untuk mengenal lebih dekat dengan Tuhan.

Handphone saya berbunyi. Telepon dari atasan.

“Malam, Pak.”

Saya diam, dan sedikit terkejut

“Pembunuhan?”

Dan saya lebih terkejut lagi

“Korbannya Pak Nano dan Bu Nano??!!! Tukang Nasi Goreng depan gang rumah saya?!?!”

“Innalillahi… Bagaimana kondisi korban dan TKP?”

Diam dan saya cuma berkata istighfar sebelum menutup teleponnya.

“Kenapa mas?” tanya Sarah penasaran

“Malam ini saya harus bekerja. Pak Nano dan Bu Nano mati dibunuh.”

“Innalillahi… Kapan? Bagaimana bisa dibunuh? Dibunuh pakai apa?”

Sudah jelas ketakutan muncul di raut wajah Sarah, dan saya tidak ingin dia mendengar kalau ada 8 tusukan di pungung Pak Nano dan 3 tusukan yang langsung menghujam di jantung Bu Nano. 

“Katanya baru saja sejam yang lalu. Tolong ambilkan jaket coklat saya dan tas kerja saya. Subuh mungkin saya baru pulang. Kunci ganda pintu rumah. Jangan keluar rumah.”

“Ya Mas.”

Sayup-sayup terdengar suara Adzan di telinga saya.

“Mending Mas shalat Isya’ dulu di Masjid. Biar lancar.”

“Ya”

“Sekalian mendo’akan Pak Nano dan Bu Nano.”

Saya mengangguk pelan dan tersenyum. Sarah masuk untuk mengambil jaket coklat dan tas saya. Saya duduk di teras rumah dan memakai sepatu pantofel kado ulang tahun ke 30 dari Sarah. Sekali lagi, saya tersenyum.

Sarah-lah yang senantiasa membuat pekerjaan saya tak ubahnya seperti pekerjaan normal lainnya. Bagaikan bunga di tengah-tengah mayat yang harus saya selidiki.

Sarah datang dan memakaikan jaket coklat ini ke saya.

“Mas jalan?”

“Cuma di depan gang. Jangan lupa kunci ganda dan tetap di dalam rumah. Subuh saya pulang.”

“Ya Mas. Mas juga, jangan lupa ke Masjid.”

Senyum

“Assalamualaikum”

(bersambung)

Saya mengambil dan mengedit sesuai kebanyakan warna dan angle di mimpi saya…. Lucid

Saya mengambil dan mengedit sesuai kebanyakan warna dan angle di mimpi saya…. Lucid

Lazy Holiday

Kemaren ada banyak hal yang jadi target gw buat liburan ini. Mulai dari touring wisata Jawa Timur, maen ke Sawarna, ngajakin backpackeran ke Jawa Tengah, nanjak ke Gunung Sumbing, tapi entah kenapa tiba-tiba gw ngerasa yang paling visible yang gw lakuin liburan kali ini cuma joging pagi rutin….

But well, ternyata hidup di kosan sama di rumah sama aja. Tidur pagi, bangun siang. (bedanya kalau di rumah jam 5 pagi udah diobrakin subuh. Tapi kalau kelar subuhan, tidur lagi). Alhasil, selama seminggu di rumah juga ga joging sama sekali. Malah waktu abis di atas kasur ama mantengin laptop. Kadang juga diselingi ama nonton TV.

Ah, what a lazy holiday. Kayaknya berangkat bintaro jadi tambah gemuk deh…..

Kasih Sayang

14 Februari itu kemaren ya…. Hahahahaha…… Gw dapet coklat cuy, tapi dari temen baik gw. Walaupun gw masih gak yakin ini Gay Thing apa kagak, at least yang gw yakini adalah kasih sayang itu tidak cuma sebatas lu ama kekasih lu sendiri. 

Udah sewajarnya kalo ada suatu waktu bagi anak perantauan kaya’ gw untuk menghabiskan malamnya merindukan orang tuanya. Bermula waktu gw mau bikin kertas belajar buat UAS. Jadi gw bikin kertas belajarnya simpel aja. Ambil HVS A4 10 lmbr, lipat aja di tengah2nya hingga jadi kayak buku tulis A5. Voila!!!

Tapi waktu gw bikin kertas belajar itu, gw langsung keinget ama ibu gw di rumah….

Dulu waktu gw masih umur 5 tahunan (Tahun 1994), gw hobi banget tuh corat coret koran, majalah, buku, ama tembok. Bapak, kakek, nenek, kakak aja sampai marah-marah ngelihat foto-foto gw kumisin, atau tembok-tembok yang gw crayon.

Untung ibu gw kasihan ngeliat gw yang masih kecil di-bully ama keluarga-keluarga yang lebih tua. Ibu gw langsung ngambil beberapa lembar kertas buram milik bapak gw, dilipat jadi dua pas di tengah2 terus distraples. Beliau bilang ke gw, “Ir, kalau mau corat coret, cari kertas kosong ya. Nih ibu buatin kamu kertas gambar.”

Gw waktu itu mungkin ga ngerasain apa-apa ya, paling cuma jawab “ya bu…”, tapi ketika momen itu bermain di pikiran gw kemaren, rasanya manis melebihi coklat. 

First Impression

  • Suatu hari di sebuah kamar kosan
  • Jon : Hal yang membedakan SNSD sama girlband yang lain itu karena masing2 karakter dan wajah mereka khas. Itu yang gw suka.
  • Irwan : Kayak'e bukan itu deh. Mungkin karena SNSD itu girlband pertama yang kita lihat dan kita sukai. Seperti istilah "Cinta pertama tak mungkin kita lupakan."
  • Jon : Tapi dulu gue seneng banget ama Backstreet Boys, terus karena Westlife muncul, gw jadi malah suka Westlife.
  • Irwan : Kan itu band cowok, Jon.
  • SOLVED

fuckyeahmahasiswa:

Saksi Bisu Ke-aL4y-an Kita…..Akui saja -___-

dari zearrock

fuckyeahmahasiswa:

Saksi Bisu Ke-aL4y-an Kita…..Akui saja -___-

dari zearrock

282 notes

MABA

fuckyeahmahasiswa:

MAHASISWA BARU:

-Bening bak porselen, Mulus, Inceran Senior

MAHASISWA ABADI:

-Muka disangka dosen, Ga lulus lulus, Udah ngospekin lima angkatan junior.

dari rizkidwika

115 notes