“Jakarta. Sudah hampir 10 tahun saya mencari hidup di sini. Berbeda jauh dengan kota saya sebelumnya, di sini semuanya cepat bergerak. Siang malam, selalu ada pengalaman baru menanti di setiap sudutnya. Dan saya hampir ketinggalan.”
“Palapa adalah nama pemberian orang tua saya, tepat sehari setelah satelit Palapa mengangkasa dengan dorongan mesin uap. Umur saya 35 tahun, dan saya adalah seorang aparat kepolisian. Penyelidik tepatnya. Bukan seperti harapan yang orang tua tanamkan di nama saya.”
“Hampir setiap hari saya merasakan udara awal pagi Jakarta. Tidak begitu segar, apalagi ketika hujan turun. Air-air di selokan berbau layaknya amis bangkai manusia. Mungkin hampir setiap malam, selalu ada mayat di Jakarta. Dan tentu, tidak semuanya saya selidiki.”
“Di mulut gang dekat rumah saya, ada sepasang suami istri paruh baya yang membuka warung nasi goreng di sana. Warung Nasi Goreng Nano Khas Surabaya namanya. Enak, dan saya sering makan di sana kalau pulang terlalu larut. “
Hari itu Rabu, dan malam itu saya lagi libur bertugas. Saya sedang bercengkrama dengan istri saya. Sudah 7 tahun kami menikah, dan Tuhan belum mengaruniakan kami anak.
Sarah adalah istri saya, tapi mereka biasa memanggilnya Tika, Bu Tika, atau Bu Palapa. Kami bertemu di hari pertama saya di Jakarta. Waktu itu Sarah hanyalah seorang mahasiswi di sebuah kampus agama ternama di selatan Jakarta, dan sekarang dia adalah alasan saya untuk mengenal lebih dekat dengan Tuhan.
Handphone saya berbunyi. Telepon dari atasan.
“Malam, Pak.”
Saya diam, dan sedikit terkejut
“Pembunuhan?”
Dan saya lebih terkejut lagi
“Korbannya Pak Nano dan Bu Nano??!!! Tukang Nasi Goreng depan gang rumah saya?!?!”
“Innalillahi… Bagaimana kondisi korban dan TKP?”
Diam dan saya cuma berkata istighfar sebelum menutup teleponnya.
“Kenapa mas?” tanya Sarah penasaran
“Malam ini saya harus bekerja. Pak Nano dan Bu Nano mati dibunuh.”
“Innalillahi… Kapan? Bagaimana bisa dibunuh? Dibunuh pakai apa?”
Sudah jelas ketakutan muncul di raut wajah Sarah, dan saya tidak ingin dia mendengar kalau ada 8 tusukan di pungung Pak Nano dan 3 tusukan yang langsung menghujam di jantung Bu Nano.
“Katanya baru saja sejam yang lalu. Tolong ambilkan jaket coklat saya dan tas kerja saya. Subuh mungkin saya baru pulang. Kunci ganda pintu rumah. Jangan keluar rumah.”
“Ya Mas.”
Sayup-sayup terdengar suara Adzan di telinga saya.
“Mending Mas shalat Isya’ dulu di Masjid. Biar lancar.”
“Ya”
“Sekalian mendo’akan Pak Nano dan Bu Nano.”
Saya mengangguk pelan dan tersenyum. Sarah masuk untuk mengambil jaket coklat dan tas saya. Saya duduk di teras rumah dan memakai sepatu pantofel kado ulang tahun ke 30 dari Sarah. Sekali lagi, saya tersenyum.
Sarah-lah yang senantiasa membuat pekerjaan saya tak ubahnya seperti pekerjaan normal lainnya. Bagaikan bunga di tengah-tengah mayat yang harus saya selidiki.
Sarah datang dan memakaikan jaket coklat ini ke saya.
“Mas jalan?”
“Cuma di depan gang. Jangan lupa kunci ganda dan tetap di dalam rumah. Subuh saya pulang.”
“Ya Mas. Mas juga, jangan lupa ke Masjid.”
Senyum
“Assalamualaikum”
(bersambung)